Kegiatan Fumigasi Kapal Di Kantor Kesehatan Pelabuhan

Salah satu upaya pencegahan penyebaran penyakit karantina dan penyakit potensial wabah Di Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang yaitu bersama melakukan usaha pemantauan segi dampak terhadap wilayah pelabuhan serta alat angkut.

Kegiatannya mampu berupa tindakan hapus tikus dan tindakan hapus serangga. Sesuai bersama Permenkes RI No. 34 th. 2013 tentang Penyelenggaraan Tindakan Hapus Tikus dan Hapus Serangga Pada Alat Angkut di Pelabuhan, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Darat, Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang membawa tugas untuk melakukan pengawasan terhadap kegiatan penyehatan alat angkut/kapal baik fumigasi kapal (deratisasi) maupun tindakan hapus serangga (disinseksi).

Dalam pelaksanaannya kegiatan deratisasi (tindakan hapus tikus) bersama langkah fumigasi ini merupakan tindakan untuk mengeliminasi segi risiko yang pengawasannya berada di bawah Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang (KKP Semarang), sedang penyelenggaraannya dilakukan oleh sektor swasta/ Badan Usaha Swasta (BUS).

Mengingat cii-ciri racun dari fumigan berikut amat berbahaya maka penggunaannya wajib dilakukan oleh tenaga yang miliki kompetensi dibidang fumigasi kapal , supaya pelaksanaannya benar (sesuai prosedur), aman (tidak membahayakan manusia dan lingkungan) serta mampu berhasil kegunaan dan berdaya guna.

Kegiatan fumigasi kapal di wilayah KKP Semarang mampu dilakukan berdasarkan :

1. Hasil pemeriksaan adanya gejala kehidupan tikus dan atau/ tikus dan atas keinginan pihak kapal (nahkoda/pemilik kapal) di dalam rangka perpanjangan masa berlaku sertifikat sanitasi kapal.

2. Hasil pemeriksaan terhadap kapal yang doking dan ditemukan adanya gejala kehidupan tikus dan/ atau tikus

 

HAPUS TIKUS DI KAPAL

Ketentuan-ketentuan di dalam kegiatan Hapus Tikus:

1. Hapus tikus kapal dilakukan berdasarkan :

a. Hasil pemeriksaan adanya gejala kehidupan tikus dan/atau tikus dan atas keinginan pihak kapal (nahkoda/pemilik kapal) di dalam rangka perpanjangan masa berlaku sertifikat sanitasi kapal; dan/atau

b. Hasil pemeriksaan terhadap kapal yang docking dan ditemukan adanya gejala kehidupan tikus dan/atau tikus.

2. Nahkoda/pemilik kapal wajib mengajukan surat keinginan yang ditujukan kepada Kepala KKP.

Prosedur Tetap Pelaksanaan Fumigasi Kapal di KKP Semarang mampu dijelaskan sebagai berikut :

 

A. PERSIAPAN

1.Kepala KKP memicu Surat Perintah Kerja (SPK) untuk penyelenggara yang ditunjuk untuk melakukan hapus tikus.

2.Kepala KKP Semarang memicu SPK untuk pengawas KKP Semarang yang bakal mengawasi pelaksanaan hapus tikus.

3.Penyelenggara menunjuk pengawas penyelenggara dan petugas lain.

4.Pengawas KKP Semarang pilih jumlah fumigator, peralatan dan tenaga.

 

 

B. PELAKSANAAN DI LAPANGAN

1. Pengawas KKP Semarang menanyakan kepada pengawas Penyelenggara tentang kelengkapan administrasi.

2. Pengawas KKP Semarang dan pengawas Penyelenggara memeriksa kelengkapan hapus tikus, seperti :

a.Tenaga (penempel, fumigator, dokter ,paramedis )

b.Peralatan (gas jumlah yang cukup, masker gas, canester, sarung tangan ,kunci pembuka, neple, selang, gas detector, kertas/plastik penutup dan lem/lakban, serta peralatan lain cocok kebutuhan)

3.Pengawas penyelenggara memerintahkan tenaga penempel untuk menutup semua lubang ventilasi maupun lubang lain yang terjalin bersama udara luar.

4.Pengawas KKP Semarang dan pengawas penyelenggara secara berbarengan memicu strategi pelepasan gas, jadi dari ruangan mana dan dari mana keluar.

5.Pengawas KKP Semarang dan pengawas penyelenggara menghitung volume kapal dan jumlah fumigan yang bakal digunakan.

6.Pengawas KKP Semarang, pengawas penyelenggara, dan nahkoda/perwira jaga memeriksa semua anggota kapal untuk meyakinkan :

a.Semua ruangan yang bakal dihapus tikus udah terbuka.

b.Tidak ada manusia atau binatang peliharaan lainnya juga ikan di dalam akuarium di kapal.

c.Sudah dilakukan penutupan palka-palka, cerobong, pintupintu, jendela- jendela dan lain-lain bersama cermat.

d.Bendera VE dan tanda bahaya lain seperti spanduk, stiker udah terpasang terhadap area yang tepat supaya gampang diamati orang.

e.Bila ada ruangan yang tidak mampu diakses wajib ditutup rapat sampai tidak mampu dimasuki gas.

7. Fumigator meletakkan fumigan di area yang tepat dan aman.

8. Nahkoda/perwira jaga di tandatangani surat pengakuan tidak ada orang di di dalam kapal dan kapal siap dihapus tikus .

9. Kapal di Black Out (mesin kapal dan generator listrik dimatikan).

10. Hapus tikus dilakukan dibawah pimpinan Pengawas Penyelenggara.

 

 

C. PELEPASAN GAS (PENGGASAN)

1.Pengawas KKP Semarang menanyakan kepada Pengawas Penyelenggara tentang strategi pelaksanaan hapus tikus.

2.Melakukan pemeriksaan lagi tentang :

a.Pasangan fumigator/operator.

b.Penggunaan alat pelindung diri (masker, canester, sarung tangan, sepatu boot, baju kerja).

c.Kesiagaan selagi membiarkan gas pada lain :

1.Stand by alat angkut air seumpama kapal yang dihapus tikus jauh dari dermaga.

2.Stand by (siaga penuh) ambulan.

3.Bila hapus tikus dilakukan di dermaga, petugas hapus tikus lain memelihara supaya tidak ada orang naik ke kapal bersama menyimak jarak kapal dan arah angin.

4.Pengawas KKP Semarang memberi tanda kepada Pengawas Penyelenggara bahwa hapus tikus mampu dilaksanakan, bersama bersama itu pengawas KKP Semarang turun dari kapal supaya di atas kapal yang tinggal cuma Pengawas Penyelenggara dan fumigator/operator.

5.Sebelum meningalkan kapal, Pengawas KKP Semarang pilih :

a.Waktu (jam, menit) dimulainya pelepasan.

b.Waktu yang diperlukan untuk pelepasan gas.

c.Menentukan selagi pelepasan gas (time exposure) sedikitnya 8-12 jam untuk CH3Br (metil bromida).

d.Pengawas Penyelenggara dan fumigator sehabis membiarkan gas wajib turun dari kapal dan siaga di lebih kurang kapal.

3. Pengawas KKP Semarang dan Pengawas Penyelenggara melakukan pengawasan terhadap kemungkinan adanya kebocoran gas, orang naik ke kapal, dan barang keracunan gas.

4. Hapus tikus terhadap malam hari seyogyanya dihindari, hal ini untuk jauhi bermacam risiko yang kemungkinan terjadi, seperti kecelakaan, susah mendeteksi adanya kebocoran, dan pengawasan kemungkinan adanya orang naik ke kapal.

 

 

D. PEMBEBASAN GAS

1. Pengawas KKP Semarang pilih jam pembebasan gas.

2. Pengawas KKP Semarang mengamati pembebasan gas oleh Pengawas Penyelenggara bersama melalui tahapan:

a.Pengawas Penyelenggara dan fumigator/operator bersama memakai masker/canester terhubung pintu utama, cerobongcerobong dan semua lubang ventilasi.

b.Pengawas Penyelenggara/fumigator membiarkan situasi kapal paling sedikit selama 1 (satu) jam.

c.Pengawas Penyelenggara dan fumigator/operator bersama memakai masker dan canester lagi masuk ke kapal untuk terhubung anggota ventilasi lain yang tidak mampu diakses dari luar.

3. Bila ruangan mesin udah aman dari gas, Pengawas KKP Semarang dan Pengawas Penyelenggara menghendaki perwira mesin dan stafnya bersama memakai masker/canester membangkitkan mesin untuk membangkitkan blower.

4. Setelah blower hidup semua orang turun dari kapal.

5. Satu jam kemudian, Pengawas KKP Semarang, Pengawas Penyelenggara dan nahkoda/perwira jaga bersama memakai masker melakukan pengukuran konsentrasi gas bersama tube detector/lakmus yang menunjukkan ruangan bebas gas.

6. Bila udah diyakini semua ruangan bebas gas tanpa masker/canester, dibuat pengakuan udah bebas gas yang ditandatangani oleh Pengawas KKP Semarang, Pengawas Penyelenggara dan nahkoda/perwira jaga.

7. Pengawas Penyelenggara memicu laporan hasil hapus tikus kepada Kepala KKP Semarang yang ditandatangani oleh Pengawas KKP Semarang dan nahkoda .

8. Pengawas KKP Semarang memerintahkan nahkoda/perwira jaga untuk menurunkan bendera VE dan gejala bahaya lainnya.

 

 

E. PENILAIAN

Pengawas KKP Semarang dan Pengawas Penyelenggara melakukan penilaian hasil hapus tikus, sebagai berikut :

1.Melakukan penghitungan pemanfaatan gas bersama jumlah gas yang dipersiapkan.

2.Menghitung jumlah tikus yang ditemukan mati dibandingkan bersama jumlah perkiraan tikus di atas kapal sebelum saat hapus tikus.

3.Melakukan identifikasi tikus.

4.Memeriksa apakah ada hewan peliharaan serta serangga yang mati.

5.Menilai apakah ada moment perihal keracunan, kebocoran gas, orang tidak berkepentingan naik ke kapal, ketaatan dan kepatuhan semua pihak.

 

F. PELAPORAN

Pengawas KKP Semarang memicu laporan kepada Kepala KKP Semarang tentang pelaksanaan hapus tikus di kapal meliputi: persiapan, pelaksanaan, pembebasan gas, penilaian dan kesimpulan/saran.